Perencanaan Pembelajaran
1.
Pengertian
Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan adalah hal yang penting
dalam melakukan sesuatu. Hal itu karena perencanaan merupakan penentu dan
sekaligus pemberi arah terhadap tujuan yang ingin dicapai. Secara operasional,
perencanaan atau planning adalah satu dari fungsi manajemen yang sangat
penting. Bahkan, kegiatan perencanaan ini selalu melekat pada kegiatan hidup
sehari-hari, baik disadari maupun tidak.
Kaufman mengatakan: perencanaan adalah
suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah
dan bernilai. Perencanaan berkaitan dengan penentuan apa yang akan dilakukan.
Adapun kata “pembelajaran” adalah
terjemahan dari “instruction”, yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di
Amerika Serikat. Dalam istilah “pembelajaran” yang lebih dipengaruhi oleh
perkembangan hasil-hasil teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan
belajar dan siswa dijadikan sebagai subjek yang memegang peranan yang utama. Pembelajaraan
adalah proses yang diatur menurut langkah-langkah tertentu (sistematis)
melibatkan berbagai unsur atau komponen pembelajaran secara terpadu (sistemik).
Pengaturan yang dilakukan secara sistematis dan sistemik dimaksudkan agar
proses pembelajaran dapat berjalan secara logis, efektif dan efisien.
Pengaturan ini secara praktis dibuat dalam bentuk perencanaan mengajak.
Perencanaan pembelajaran adalah
suatu proyeksi mengenai kegiatan atau proses yang akan dilakukan
selama pembelajaran berlangsung. Dalam Peraturan Peraturan PP No.
19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan , bahwa perencanaan
pembelajaran tersebut meliputi dua jenis yaitu : pertama Silabus Pembelajaran
dan kedua Rencana Pelaksaaan Pembelajaran” (BAB IV Pasal 20).
2.
Fungsi
dan Kedudukan Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan
pembalajaran berfungsi sebagai alat pengendali sekaligus kontrol dalam setiap
kegiatan pembelajaran.
Fungsi perencanaan pembelajaran adalah :
·
Sebagai pola dasar dalam mengatur
tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam pembelajaran.
·
Sebagai pedoman kerja/kegiatan bagi
setiap unsur guru dan unsur siswa.
·
Sebagai alat ukur efektif tidaknya
suatu kegiatan pembelajaran berlangsung.
·
Sebagai bahan penyusunan data
informasi tentang keberhasilan pembelajaran.
Secara lebih spesifik fungsi perencanaan pembelajaran dikemukakan oleh Kostelnik
sebagai berikut:
·
Mengorganisir pembelajaran;
yaitu proses mengelola seluruh aspek yang terkait dengan pembelajaran agar
tertata secara teratur, logis, sistematis, untuk memudahkan melakukan proses
dan pencapaian hasil pembelajaran secara efektif dan efisien.
·
Berpikir lebih kreatif untuk mengembangkan apa yang harus dilakukan siswa;
yaitu melalui perencanaan, proses pembelajaran dapat dirancang secara kreatif,
inovatif. Dengan demikian proses pembelajaran tidak dikesankan sebagai suatu
proses yang monoton atau terjadi secara rutinitas.
·
Menetapkan
sarana dan fasilitas untuk mendukung pembelajaran; melalui perencanaan, sarana
dan fasilitas pendukung yang diperlukan akan mudah diidentifikasi dan bagaimana
mengelolanya agar terjadi kegiatan pembelajaran yang lebih efektif.
·
Memetakan indicator hasil belajar dan cara untuk mencapainya; yaitu melalui
perencanaan yang matang, guru sudah memiliki data tentang sejumlah indicator
yang harus dikuasai oleh siswa dari setiap pembelajaran yang dilakukannya.
·
Merancang program untuk mengakomodasi kebutuhan siswa secara lebih
spesifik; yaitu melalui perencanaan, hal-hal penting yang terkait dengan
kebutuhan, karakteristik, dan potensi yang dimiliki siswa akan teridentifikasi
dan merencanakan tindakan yang dianggap tepat untuk meresponnya.
Adapun
kedudukan perencanaan pembelajaran yaitu :
·
Sebagai pedoman atau panduan
proses pembelajaran secara umum akan
mengikuti langkah-langkah atau prosedur dan aktivitas pembelajaran
disesuaikan dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian pada
saat mengajar guru selalu menggunakan perencanaan sebagai pedoman “ Intuctional
design describe procedures for intructional implementation ”
(Reigeluth. 1983 : 10).
·
Sebagai penggambaran
hasil
Perencanaan selain merupakan gambaran
proyeksi kegiatan yang akan dilakukan, juga melalui fungsi praktis perencanaan
pembelajaran adalah menggambarkan hasil yang akan atau harus dicapai dari
kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
·
Sebagai alat kontrol
Setiap kegiatan pembelajaran baik
dilakukan di dalam kelas maupun diluar kelas selalau harus dalam kegiatan
terencana dan terkontrol. Reigeluth menyatakan “Intructional design
describe procedure for intructional management”.
·
Sebagai alat evaluasi
Perencanaan pembelajaran menggambarkan
hasil. Sejauhmana sasaran pembelajaran yaitu tujuan atau indikator pembelajaran
telah tercapai atau tidak. Diketahui melalui kegiatan evaluasi. Dengan demikian
maka fungsi berikutnya dari perencanaan pembelajaran adalah sebagai
alat evaluasi “intuctional design identifies and remedies weaknesses as a part
of instructional evaluation” (Regeluth, 1983).
3.
Prinsip-Prinsip
belajar dan karakteristik kegiatan belajar Anak Usia Dini
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan
dalam pelaksanaan kegiatan/ pembelajaran pada pendidikan anak usia dini
meliputi:
·
Berorientasi pada
Perkembangan Anak
Dalam melakukan kegiatan, pendidik perlu
memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Anak
merupakan individu yang unik, maka perlu memperhatikan perbedaan secara
individual. Dengan demikian dalam kegiatan yang disiapkan perlu memperhatikan
cara belajar anak yang dimulai dari cara sederhana ke rumit, konkrit ke
abstrak, gerakan ke verbal, dan dari ke-aku-an ke rasa sosial
·
Berorientasi pada
Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus
senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak pada usia dini sedang
membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek perkembangannya.
Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan
berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak.
·
Bermain Sambil Belajar
atau Belajar Seraya Bermain
Bermain merupakan pendekatan dalam
melaksanakan pembelajaran pada anak usia dini. Kegiatan pembelajaran yang
disiapkan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan
dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang menarik serta
mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi,
menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga
pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Ketika bermain anak membangun
pengertian yang berkaitan dengan pengalamannya.
·
Stimulasi Terpadu
Perkembangan anak bersifat sistematis,
progresif dan berkesinambung-an antara aspek kesehatan, gizi dan pendidikan.
Hal ini berarti kemajuan perkembangan satu aspek akan mempengaruhi aspek
perkembangan lainnya. Stimulasi harus diberikan secara terpadu sehingga seluruh
aspek perkembangan dapat berkembang secara berkelanjutan, dengan memperhatikan
kematangan dan konteks sosial, dan budaya setempat.
·
Lingkungan Kondusif
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan
sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga anak merasa aman,
nyaman dan menyenangkan dalam lingkungan bermain baik di dalam maupun di luar
ruangan. Pendidik harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing anak.
·
Menggunakan Pendekatan
Tematik
Kegiatan pembelajaran dirancang dengan
menggunakan pendekatan tematik. Tema sebagai wadah mengenalkan berbagai konsep
untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya. Tema dipilih dan dikembangkan
dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana, serta menarik minat.
·
Aktif, Kreatif,
Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran.
·
Menggunakan Berbagai
Media dan Sumber Belajar
Setiap kegiatan untuk menstimulasi
perkembangan potensi anak, perlu memanfaatkan berbagai media dan sumber
belajar, antara lain lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja
disiapkan oleh pendidik. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar
dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan
sekitarnya.
·
Mengembangkan Kecakapan
Hidup
Proses pembelajaran harus diarahkan
untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui penyiapan lingkungan belajar yang
menunjang berkembangnya kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan
sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan
hidupnya.
·
Pemanfaatan Teknologi
Informasi
Pelaksanaan stimulasi pada anak usia
dini dapat memanfaatkan teknologi untuk kelancaran kegiatan, misalnya tape,
radio, televisi, komputer. Pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan
pembelajaran dimaksudkan untuk mendorong anak menyenangi belajar.
Adapun prinsip-prinsip penyusunan
rencana pelaksanaan pembelajaran adalah:
·
Memerhatikan perbedaan
individu peserta didik
Rencana
pelaksanaan pembelajaran disusun dengan memerhatikan perbedaan jenis kelamin,
kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi,
kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar,
latar belakang budaya, norma, nilai dan/ lingkungan peserta didik.
·
Mendorong pasrtisipasi
aktif peserta didik
Proses
pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong
motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat
belajar.
·
Mengembangkan budaya
membaca dan menulis
Proses
pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam
bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
·
Memberikan umpan balik
dan tindak lanjut
Rencana
pelaksanaan pembelajaran memuat rancangan program pemberian umpan balik
positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
·
Keterkaitan dan
keterpaduan
Rencanapelaksanaan
pembelajaran disusun dengan memerhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara
standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator pencapaian kompetensi, penilaian dan sumber belajar dalam satu
keutuhan pengalaman belajar.
·
Menerapkan teknologi
informasi dan komunikasi
Rencana
pelaksanaan pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan penerpan teknologi
informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai
dengan situasi dan kondisi.
Adapun
karakteristik belajar Anak usia Dini yaitu Anak memiliki karakteristik yang
berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal
belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang
dewasa. Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami
dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak
usia dini. Adapun karakterisktik cara belajar anak menurut Masitoh dkk. (2009:
6.9 – 6.12) adalah :
1.
Anak belajar melalui bermain.
2.
Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya.
3.
Anak belajar secara alamiah.
4.
Anak belajar paling baik jika apa
yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, bermakna,
menarik, dan fungsional.
Kegiatan
pembelajaran pada anak usia dini, menurut Sujiono dan Sujiono (Yuliani Nurani
Sujiono, 2009: 138), pada dasarnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret
berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui
bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas
perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang
harus dimiliki oleh anak.
Atas dasar
pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajaran untuk anak usia dini
memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Belajar,
bermain, dan bernyanyi
Pembelajaran
untuk anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi
(Slamet Suyanto, 2005: 133). Pembelajaran untuk anak usia dini diwujudkan
sedemikian rupa sehingga dapat membuat anak aktif, senang, bebas memilih.
Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alat-alat permainan dan perlengkapan
serta manusia. Anak belajar dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan.
Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan belajar dilakukan dengan
teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan seluruh alat inderanya.
2. Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
mengacu pada tiga hal penting, yaitu :
1) berorientasi pada usia yang tepat,
2) berorientasi pada individu yang tepat, dan
3) berorientasi pada konteks social budaya (Masitoh
dkk., 2005: 3.12).
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan harus
sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati, kemampuan
yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut menantang untuk
dilakukan anak di usia tersebut.
Manusia merupakan makhluk individu. Perbedaan
individual juga harus manjadi pertimbangan guru dalam merancang, menerapkan,
mengevaluasi kegiatan, berinteraksi, dan memenuhi harapan anak.
Selain berorientasi pada usia dan individu yang tepat,
pembelajaran berorientasi perkembangan harus mempertimbangkan konteks sosial
budaya anak. Untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang bermakna, guru
hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat, faktor budaya yang
melingkupinya.
Sumber:
Rusman.
2011. Model-Model Pembelajaran.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sanjaya,wina.
2011. Pembelajaran dalam Implementasi
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: PT Fajar Interpratama.
Hamalik
,Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta:
Bumi Aksara
Harjanto.
2010. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Ibrahim dan Nana Syaodih. 1996. Perencanaan
Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
0 komentar:
Posting Komentar