RSS
Wecome to my Blog, enjoy reading :)

Kamis, 04 Desember 2014

Evaluasi dalam Pembelajaran Anak Usia Dini



Evaluasi dalam Pembelajaran Anak Usia Dini

1.      Pengertian

a.      Evaluasi
Pengertian evaluasi, penilaian dan pengukuran cenderung dianggap sama oleh sebagian orang maupun guru sehingga para guru, mulai dari guru TK hingga guru sekolah menengah menggunakan ketiga istilah tersebut sebagai hal yang sama.
Davies mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses untuk memberikan atau menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, maupun objek (Davies, 1981:3). Menurut Wand dan Brown, evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu (dalam Nurkancana, 1986:1).
Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu ( Sudjana, 1990:3).
Menurut linn dan gronlund ( siti isyah 2007: 6.5) evaluasi dalah proses yang sistematis untuk pengumpulan, penganalisisan dan penafsiran informasi untuk menentukan sejauh mana anak dapat mencapai tujuan pembelajaran. Evaluasi berfokus pada nilai data yang di gunakan untuk tujuan khusus evaluasi melibatkan analisis yang sistematis tentang fakta atau keterangan untuk membuat keputusan normatif tentang maksud dari hasil evaluasi tersebut.
Menurut frith dan macintosh evaluasi berkaitan dengan efektifitas  metode mengajar. Menurut ralph tayler eveluasi merupakan sebuah proses mana tujuan pendidikan untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa dan bagiamana tujuan pendidikan tercapai. Jika belum kenapa belum dan apa sebabnya. ( dikutip dari suharsimi (2003 hal 2)
Dalam arti luas evalusi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat di perlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja di rencanakan untuk memperoleh informasi dan berdasarkan informasi tersebut, kemudian di ambil keputusan.
Dalam hubunganya dengan kegitan pembelajaran dan pendidikan,. Wrigstone dan kawan-kawan mengemukakan evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan anaknke arah tujuan- tujuan atau nilai-nilai yang telah di terapkan dalam kurikulum ( ngalim purwanto 2000:3)
Dari berbagai pengertian di atas. Tiga aspek yang perlu di perhatikan agar dapat lebih memahami maksud dari evaluasi, khusunya evaluasi pembelajaran yaitu:
1.      Kegiatan evaluasi yang merupakan proses yang sistematis.
Hal ini berari bahwa kegiatan evaluasi dalam pembelajaran merupakan kegiatan yang di rencanakan dan di lakukan secara berkesinambungan.  Kegiatan tersebut di laukan sejak permulaan, selama dan sampai akhir program.
2.      Kegiatan evaluasi memerlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut objek yang di evaluasi.
Dalam kegiatan pembelajaran, data atau informasi yang di maksud adapat berupa sikap atau prilaku selama proses dan hasil karya anak.
2.      Kegiatan evaluasi pembelajaran tidak dapat di lepaskan dari tujuan pembelajaran yang hendak di capai.
Karakteristik Evaluasi
    1. Validitas adalah Alat evaluasi harus sahih yakni mengukur apa yang hendak diukur dengan tepat.
    2. Reabilitas adalah Alat evaluasi  harus ardal artinya alat evaluasi harus menghasilkan hasil ukur yang sama jika dipakai kapanpun dan dimanapun.
    3. Dekriminatif adalah evaluasi harus dapat menghasilkan/ menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada setiap anak.
    4. Praktis adalah alat evaluasi harus praktis yakni mudah untuk digunakan.


b.      Penilaian
Penilaian terhadap suatu program pendidikan akan sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran. Penilaian dapat membantu meningkatkan kualitas program maupun kegiatan belajar anak peserta program pendidikan. Bagi guru, penilaian merupakan alat bantu dalam memperbaiki pendidikan dan pembelajaran anak di kelasnya.
Penilaian seringkali dianggap sama dengan tes meskipun penilaian lebih dari sekadar tes, penilaian digunakan untuk berbagai keperluan dalam usaha memahami dan mendapat gambaran mengenai perkembangan seorang anak.
Menurut Brewer (dikutip dari patmonodewo : 1995, h. 113) penilaian adalah penggunaan sistem evaluasi yang bersifat komprehensif (menyeluruh) untuk menentukan kualitas dari suatu program atau kemajuan dari seorang anak meliputi perkembangan sosial, emosional, fisik motorik, dan perkembangan intelektualnya. Penilaian yang dilakukan terhadap program pendidikan meliputi keberhasilan anak, keberhasilan guru serta kepuasan orang tua anak terhadap hasil yang telah dicapai.
Penilaian tidak dapat memperbaiki kualitas anak maupun program, kecual penilaian tersebut dimamfaatkan dan dipergunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan dalam menyusun kurikulum. Penilaian dapat bersifat formal dan informal dan penilaian biasanya menggambarkan suatu proses. Pada modul ini istilah penilaian dan evaluasi digunakan sebagai arti yang sama (suharsimi : 2003, hal 3).

3.      Penilaian pada Anak Usia Dini
 Penilaian di TK merupakan usaha mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan daan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui kegiatan belajar. Penilaian ini juga merupakan upaya untuk mendapatkan informasi atau data secara menyeluruh yang menyangkut semua aspek kepribadian anak terhadap proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai melalui proses pembelajaran, meliputi perkembangan fisik motorik, sosial, emosi, kognitif, moral, dan nilai-nilai agama, serta seni.


                        Tujuan Evaluasi Dalam Proses Pembelajaran Adalah :
a.       Mengetahui apakah materi yang di pelajari dapat dilanjutkan dengan bahan yang baru/diulangi
b.         Untuk mengetahui taraf efisiensi metode yang di gunakan oleh pendidik
c.         Untuk mengetahui efektifitas proses pembelajaran yang dilaksanakan
d.       Untuk mengetahui apakah komponen-komponen dalam proses pembelajaran sudah memberikan kontribusi positif bagi proses pembelajaran.
e.        Untuk mengetahui kesesuaian presepsi dan pemikiran peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.
f.       Mengetahui sejauh mana perkembangan dari pelaksanaan pembelajaran
g.       Mengetahui perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan apa yang terjadi pada peserta belajar
h.      Mengetahui sejauh mana ketercapaian tujuan
i.        Mengetahui dampak apa yang terjadi dari proses pembelajaran.
j.        Bahan pertimbangan untuk menentuakan proses selanjutnya agar lebih efektif dan efisien
k.         Mengajak kepada semua pihak untuk lebih bertanggungjawab terhadap apa yang telah dilakukannya.
l.        Menemukan pada bagian-bagian mana dari proses pembelajaran yang dianggap belum berhasil
m.    Mengungkapkan kerugian dan manfaat dari proses pembelajaran
n.      Mengungkapkan faKtor-faktor pendukung dan penghambat dari proses pembelajaran
o.      Menentukan apakah pendekatan dan teknik yang digunakan dalam pembelajaran sudah tepat
p.      Menentukan tepat atau tidaknya media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta belajar
q.       Menentukan apakah fasilitator memberikan kemudahan peserta belajar memahami materi kegiatan pelatihan, pembelajaran.
r.        Menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan pembelajaran

Fungsi Penilain Di Tk
a.       Memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar.
b.      Memberikan informasi kepada orangtua tentang ketercapaian pertumbuhan dan perkembangan anaknya untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan bimbingan serta motovasi.
c.       Sebagai bahan pertibangan guru untuk menempatkan anak dalam kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuan anak didik yang memingkunkan anak didik mencapai kemampuan secara optimal.
d.      Sebagai bahan masukan bagi pihak lain yang memerlukan dalam memberikan pembinaan selajutnya.
Tahap Kegiatan Penilaian
Penilaian di TK menggunakan tiga kegiatan utama yang merupakan rangkaian kerja yang dilakukan oleh guru, diantaranya yaitu :
a.       Mengamati (observation)
Yaitu proses memperhatikan anak atau sekelompok anak ketika melakukan suatu kegiatan bermain dan belajar.
b.      Mencatat (recording)
Yaitu proses mendokumentasikan ( mengumpulkan catatan) tentang kegiatan atau dalam suatu kegiatan tertentu yang teramati dengan baik. Baik bersifat negatif maupun yang bersifat negatif.
c.       Melaporkan (reporting)
Yaitu proses pengambilan keputusan sebagai hasil pengamatan dan pencatatan yang terdahulu, untuk selnajutnya diinformasikan kepada orang tua dalam bentuk laporan, baik laporan tertulis maupun tulisan.
 Teknik Pencatatan
Terdapat beberapa pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan peristiwa, yaitu :
·         Guru selalu menyimpan kertas dan pensil di kantong/saku untuk dapat menggambarkan kejadian penting dari sebuah interaksi
·         Menyimpan kertas dan pensil di ruangan kelas untuk mencatat keterangan
·         Ketika sebuah kegiatan selesai, catatan-catatan pendek tersebut disalin secara lebih terperinci dan detail ke dalam sebuah buku besar untuk diarsipkan
·         Membuat catatan harian untuk menggambarkan pengamatan spesifik dari kesan-kesan umum tentang suatu kegiatan pada hari tersebut
·         Menggunakan kartu catatan perorangan untuk setiap anak. Dengan merotasi kartu-kartu tersebut setiap hari, berarti guru telah mencatat kegiatan anak.

Pelaporan Hasil Penilaian
Setelah dilakukan pengamatan dan pencatatan tertulis, tahap selanjutnya dari kegiatan evaluasi adalah pelaporan secara tertulis kepada pihak yang berkepntingan terutama untuk mengetahui sejauh mana anak telah mencapai kemajuan perkembangan dan belajarnya, hambatan dan hal-hal lain yang diperlukan sebagai acuan untuk memberikan bimbingan kepada anak.
Laporan hasil evaluasi atau penilaian terhadap anak adalah elemen yang penting dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini.
a)      Hakikat laporan tertulis
Laporan tertulis adalah sebuah cara formal untuk memberikan informasi dari pihak sekolah ke pihak orang tua/keluarga. Umumnya laporan tertulis berisi catatan tertulis tentang :
1)      Aspek dari keseluruhan dimensi perkembangan baik fisik maupun psikis
2)      Aspek perkembangan secara spesifik/khusus baik yang merupakan kekuatan atau kelemahan dari anak secara individual
3)      Aspek kebiasaan sehari-hari anak diasekolah, hal-hal yang disukai dan tidak disukai
4)      Aspek yang berhubungan dengan pola dan gaya anak ketika berinteraksi dengan orang lain.

b)      Hal-hal yang perku diperhatikan dalam laporan tertulis
Agar laporan tertulis lebih bermakna dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademis maka terdapat hal penting untuk diperhatikan oleh guru, di antaranya adalah :
1)      Laporan hendaknya dapat memberikan gambaran tentang anak pada satu satuan waktu tertentu. Untuk itu perlu di cantumkan hari, tanggal, dan waktu pengamatan berlansung
2)       Laporan harus dapat mencerminkan sikap kepedulian secara lansung dan objektif
3)            Menggunakan ragam bahasa tulis yang positif, dengan penekanan pada kekuatan dan kebutuhan anak
4)       Berusaha untuk tidak terkesan menghakimi ketika menulis laporan atau melaporkan perilaku anak pada keluarga
5)        Semua informasi yang ditulis pada laporan hendaknya dapat dipertanggungjawabkan
6)          Pada akhir uraian selalu tawarkan saran-saran mengenai cara-cara yang dapat dilakukan sebagai alternatif pemecahan masalah
7)       Isi laporan jangan menimbulkan kecemasan yang mendalam bagi orang tua/keluarga
8)        Informasi tertulis sebaiknya merupakan tinjauan ulang atas informasi yang pernah didiskusikan oleh guru dan orang tua
9)       Pada akhir laporan perlu ada keterangan tentang kapan laporan tersebut dibuat dan ditanda tangani oleh guru bersangkutan.
c)      Rapor atau buku laporan kemajuan anak
Brewer berpendapat bahwa rapor atau buku laporan kemajuan anak bukan merupakan satu-satunya pilihan terbaik untuk suatu penilaian yang dapat disampaikan kepada orang tua karena dalam laporan tertulis terdapat keterbatasan sehingga tidak semua kemajuan yang dialami anak selama satu semester dapat dilaporkan/dituliskan dalam buku tersebut.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pertemuan dengan orang tua dan mendiskusikan perkembangan dan kemajuan anaknya. Guru harus mampu menggambarkan kekuatan anak dalam aspek yang dikemukakan dan bagaimana kemajuannya. Penjelasan pada masing-masing aspek guru perlu menjelaskan dengan ringkas, padat, dan jelas serta mudah dimengerti oleh oleh orang tua. Selain itu guru juga perlu menyadari perbedaan tiap anak dan bahwa setiap anak berbeda dengan anak yang lainnya dan setiap anak adalah unik.


























Sumber:
Ai’syah siti, dkk. 2007. Pembelajaran terpadu. Universita terbuka.: Jakarta.
Ariteunto,Suharsimi. 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
http://sriwahyunengsi.wordpress.com/2012/12/10/evaluasi-pembelajaran-anak-usia-dini/


Perencanaan Pembelajaran Anak Usia Dini



Perencanaan Pembelajaran

1.      Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan adalah hal yang penting dalam melakukan sesuatu. Hal itu karena perencanaan merupakan penentu dan sekaligus pemberi arah terhadap tujuan yang ingin dicapai. Secara operasional, perencanaan atau planning adalah satu dari fungsi manajemen yang sangat penting. Bahkan, kegiatan perencanaan ini selalu melekat pada kegiatan hidup sehari-hari, baik disadari maupun tidak.
Kaufman mengatakan: perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai. Perencanaan berkaitan dengan penentuan apa yang akan dilakukan.
Adapun kata “pembelajaran” adalah terjemahan dari “instruction”, yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Dalam istilah “pembelajaran” yang lebih dipengaruhi oleh perkembangan hasil-hasil teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan belajar dan siswa dijadikan sebagai subjek yang memegang peranan yang utama. Pembelajaraan adalah  proses yang diatur menurut langkah-langkah tertentu (sistematis) melibatkan berbagai unsur atau komponen pembelajaran secara terpadu (sistemik). Pengaturan yang dilakukan secara sistematis dan sistemik dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara logis, efektif dan efisien. Pengaturan ini secara praktis dibuat dalam bentuk perencanaan mengajak.
Perencanaan pembelajaran  adalah suatu proyeksi  mengenai  kegiatan atau proses yang akan dilakukan selama pembelajaran  berlangsung.  Dalam Peraturan Peraturan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan , bahwa perencanaan  pembelajaran tersebut meliputi dua jenis yaitu : pertama Silabus Pembelajaran dan kedua Rencana Pelaksaaan Pembelajaran” (BAB IV Pasal 20).

2.      Fungsi dan Kedudukan Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembalajaran berfungsi sebagai alat pengendali sekaligus kontrol dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Fungsi perencanaan pembelajaran adalah :
·         Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam pembelajaran.
·         Sebagai pedoman kerja/kegiatan bagi setiap unsur guru dan unsur siswa.
·         Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu kegiatan pembelajaran berlangsung.
·         Sebagai bahan penyusunan data informasi tentang keberhasilan pembelajaran.
Secara lebih spesifik fungsi perencanaan pembelajaran dikemukakan oleh        Kostelnik sebagai berikut:
·         Mengorganisir pembelajaran; yaitu proses mengelola seluruh aspek yang terkait dengan pembelajaran agar tertata secara teratur, logis, sistematis, untuk memudahkan melakukan proses dan pencapaian hasil pembelajaran secara efektif dan efisien.
·           Berpikir lebih kreatif untuk mengembangkan apa yang harus dilakukan siswa; yaitu melalui perencanaan, proses pembelajaran dapat dirancang secara kreatif, inovatif. Dengan demikian proses pembelajaran tidak dikesankan sebagai suatu proses yang monoton atau terjadi secara rutinitas.
·          Menetapkan sarana dan fasilitas untuk mendukung pembelajaran; melalui perencanaan, sarana dan fasilitas pendukung yang diperlukan akan mudah diidentifikasi dan bagaimana mengelolanya agar terjadi kegiatan pembelajaran yang lebih efektif.
·           Memetakan indicator hasil belajar dan cara untuk mencapainya; yaitu melalui perencanaan yang matang, guru sudah memiliki data tentang sejumlah indicator yang harus dikuasai oleh siswa dari setiap pembelajaran yang dilakukannya.
·          Merancang program untuk mengakomodasi kebutuhan siswa secara lebih spesifik; yaitu melalui perencanaan, hal-hal penting yang terkait dengan kebutuhan, karakteristik, dan potensi yang dimiliki siswa akan teridentifikasi dan merencanakan tindakan yang dianggap tepat untuk meresponnya.
Adapun kedudukan perencanaan pembelajaran yaitu :
·         Sebagai pedoman atau panduan
proses pembelajaran secara umum akan mengikuti langkah-langkah atau prosedur  dan aktivitas pembelajaran disesuaikan dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian pada saat mengajar guru selalu menggunakan  perencanaan sebagai pedoman “ Intuctional design describe procedures for intructional  implementation ” (Reigeluth. 1983 : 10).
·         Sebagai penggambaran hasil
Perencanaan selain merupakan gambaran proyeksi kegiatan yang akan dilakukan, juga melalui fungsi praktis perencanaan pembelajaran adalah menggambarkan hasil yang akan atau harus dicapai dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
·         Sebagai alat kontrol
Setiap kegiatan pembelajaran baik dilakukan di dalam kelas maupun diluar kelas selalau harus dalam kegiatan terencana dan terkontrol. Reigeluth menyatakan “Intructional design describe procedure for intructional management”.
·         Sebagai alat evaluasi
Perencanaan pembelajaran menggambarkan hasil. Sejauhmana sasaran pembelajaran yaitu tujuan atau indikator pembelajaran telah tercapai atau tidak. Diketahui melalui kegiatan evaluasi. Dengan demikian maka fungsi berikutnya dari perencanaan pembelajaran   adalah sebagai alat evaluasi “intuctional design identifies and remedies weaknesses as a part of instructional evaluation” (Regeluth, 1983).

3.      Prinsip-Prinsip belajar dan karakteristik kegiatan belajar Anak Usia Dini
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan/ pembelajaran pada pendidikan anak usia dini meliputi:
·         Berorientasi pada Perkembangan Anak
Dalam melakukan kegiatan, pendidik perlu memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Anak merupakan individu yang unik, maka perlu memperhatikan perbedaan secara individual. Dengan demikian dalam kegiatan yang disiapkan perlu memperhatikan cara belajar anak yang dimulai dari cara sederhana ke rumit, konkrit ke abstrak, gerakan ke verbal, dan dari ke-aku-an ke rasa sosial


·         Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak pada usia dini sedang membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek perkembangannya. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak.
·         Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan pembelajaran pada anak usia dini. Kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Ketika bermain anak membangun pengertian yang berkaitan dengan pengalamannya.
·         Stimulasi Terpadu
Perkembangan anak bersifat sistematis, progresif dan berkesinambung-an antara aspek kesehatan, gizi dan pendidikan. Hal ini berarti kemajuan perkembangan satu aspek akan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Stimulasi harus diberikan secara terpadu sehingga seluruh aspek perkembangan dapat berkembang secara berkelanjutan, dengan memperhatikan kematangan dan konteks sosial, dan budaya setempat.
·         Lingkungan Kondusif
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga anak merasa aman, nyaman dan menyenangkan dalam lingkungan bermain baik di dalam maupun di luar ruangan. Pendidik harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing anak.
·         Menggunakan Pendekatan Tematik
Kegiatan pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik. Tema sebagai wadah mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya. Tema dipilih dan dikembangkan dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana, serta menarik minat.
·         Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran.
·         Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar
Setiap kegiatan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak, perlu memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, antara lain lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.
·         Mengembangkan Kecakapan Hidup
Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui penyiapan lingkungan belajar yang menunjang berkembangnya kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.
·           Pemanfaatan Teknologi Informasi
Pelaksanaan stimulasi pada anak usia dini dapat memanfaatkan teknologi untuk kelancaran kegiatan, misalnya tape, radio, televisi, komputer. Pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan untuk mendorong anak menyenangi belajar.
Adapun prinsip-prinsip penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah:
·            Memerhatikan perbedaan individu peserta didik
Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun dengan memerhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai dan/ lingkungan peserta didik.
·                 Mendorong pasrtisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.
·                 Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
·                 Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
Rencana pelaksanaan pembelajaran memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
·                 Keterkaitan dan keterpaduan
Rencanapelaksanaan pembelajaran disusun dengan memerhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
·                 Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan penerpan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
Adapun karakteristik belajar Anak usia Dini yaitu Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini. Adapun karakterisktik cara belajar anak menurut Masitoh dkk. (2009: 6.9 – 6.12) adalah :
1.      Anak belajar melalui bermain.
2.      Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya.
3.      Anak belajar secara alamiah.
4.      Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, bermakna, menarik, dan fungsional.
Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini, menurut Sujiono dan Sujiono (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 138), pada dasarnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh anak.
Atas dasar pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajaran untuk anak usia dini memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Belajar, bermain, dan bernyanyi
Pembelajaran untuk anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi (Slamet Suyanto, 2005: 133). Pembelajaran untuk anak usia dini diwujudkan sedemikian rupa sehingga dapat membuat anak aktif, senang, bebas memilih. Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alat-alat permainan dan perlengkapan serta manusia. Anak belajar dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan. Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan belajar dilakukan dengan teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan seluruh alat inderanya.
2. Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu :
1) berorientasi pada usia yang tepat,
2) berorientasi pada individu yang tepat, dan
3) berorientasi pada konteks social budaya (Masitoh dkk., 2005: 3.12).
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati, kemampuan yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut menantang untuk dilakukan anak di usia tersebut.
Manusia merupakan makhluk individu. Perbedaan individual juga harus manjadi pertimbangan guru dalam merancang, menerapkan, mengevaluasi kegiatan, berinteraksi, dan memenuhi harapan anak.
Selain berorientasi pada usia dan individu yang tepat, pembelajaran berorientasi perkembangan harus mempertimbangkan konteks sosial budaya anak. Untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang bermakna, guru hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat, faktor budaya yang melingkupinya.


Sumber:
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sanjaya,wina. 2011. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: PT Fajar Interpratama.
Hamalik ,Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara
Harjanto. 2010. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
 Ibrahim dan Nana Syaodih. 1996. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.